Puluhan Ton Beras SPHP Diduga Dikemas Ulang Jadi Beras Premium, Ditemukan di Penggilingan Loceret
Nganjuk,koranpatroli.id— Dugaan praktik pengemasan ulang beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencuat di wilayah Kabupaten Nganjuk. Puluhan ton beras yang semula berada dalam kemasan 5 kilogram berlabel SPHP diduga dibuka dan dipindahkan ke karung lain dengan label beras premium.
Dugaan tersebut terungkap dari sebuah rekaman video yang memperlihatkan sejumlah kemasan beras SPHP ukuran 5 kilogram dibuka dari plastiknya, kemudian isinya dipindahkan ke dalam karung bertuliskan beras premium. Aktivitas tersebut disebut berlangsung di salah satu tempat penggilingan padi di wilayah Loceret pada Sabtu (5/9)
Dalam video, terlihat sejumlah orang melakukan aktivitas pemindahan beras dari kemasan SPHP ke karung lain. Temuan ini kemudian menjadi perhatian karena beras SPHP merupakan bagian dari program pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Saat dikonfirmasi pada Senin (7/9) pemilik (A) penggilingan padi mengaku tidak mengetahui aktivitas sebagaimana yang terlihat dalam rekaman video tersebut. Namun, ia membenarkan bahwa lokasi yang terlihat dalam video merupakan tempat pemindahan beras miliknya.
Yang semakin menjadi sorotan, saat media mendatangi lokasi, ditemukan sejumlah plastik kemasan baru bertuliskan merek Botani ukuran 5 kilogram dengan keterangan kualitas premium.Beberapa kantong tersebut diduga merupakan sisa aktivitas pengepakan beras.
Selain itu, media juga menemukan sejumlah karung berukuran 5 kilogram bertuliskan Bantuan Pangan di lokasi penggilingan.
Pemilik penggilingan kembali menyatakan bahwa mesin penggilingan yang berada di tempat tersebut sudah lama mengalami kerusakan dan tidak digunakan. Ia juga menyebut terdapat keponakannya yang ikut mengelola aktivitas di penggilingan tersebut.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usul beras SPHP yang terlihat dalam rekaman serta tujuan pemindahan beras dari kemasan program pemerintah ke kemasan lain berlabel premium.
Apabila benar beras SPHP dikemas ulang dan kemudian dipasarkan sebagai beras premium, praktik tersebut berpotensi merugikan konsumen sekaligus menyimpang dari tujuan program stabilisasi pangan.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui secara pasti siapa pihak yang melakukan pengemasan ulang tersebut, berapa jumlah beras SPHP yang telah dipindahkan, serta ke mana beras tersebut selanjutnya didistribusikan.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian instansi terkait untuk melakukan pengecekan dan memastikan apakah aktivitas dalam video tersebut berkaitan dengan penyalahgunaan beras SPHP atau merupakan aktivitas lain yang memiliki penjelasan dan izin yang sah. (tim)
Editor : Ester Mardiana. P

No comments